Riwandi. Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • About
Behance facebook Instagram

Riwandi

Ku melihat seseorang di tepi taman..
Dia diam terbelenggu, entah sedang apa...
Aku pun menghampirinya, tapi dia tetap diam. Tanpa lirih. Tanpa suara.
Ku lihat raut wajahnya lemas..
Seperti tidak bernafsu untuk hidup..

Ku coba bertanya, 'Nona sedang apa kau di sini?'
Lalu dia menjawab, 'Ku sedang menunggu seseorang yang sudah berjanji... Tapi tak datang juga.'
Sudah sewindu diriku termenung di sini. Di temani oleh senyap yang mengitariku.

Oh, Nona, kasihan dirimu..
Menunggu yang tak pasti, seperti tidak ada kerjaan lain.
Oh, Nona, kasihan dirimu..
Mekar senyumu jadi layu....

Boleh kah ku temani, hingga dia datang?
Tapi, apakah kau mau, wahai Nona yang sedang menunggu kepastian??


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Selamat pagi (anggap saja ini pagi).

Jika boleh berkenenan, saya akan memperkenalkan diri saya.

Nama saya adalah Prof. DR. H. Riwandi, S.De, S.MP, S.Tm, MTi, MTs, MCK

Hari ini saya akan melaporkan penilitian saya yang berjudul, "Apakah Kata ANJING Itu Kasar?"

Banyak segelintir orang yang sering mengatakan 'ANJING' ketika mereka sedang kesal. Contohnya seperti cerita di bawah ini,

Seorang Bapak ingin meminum teh. Lalu menyuruh anaknya untuk membuatkan tehnya tersebut. Setelah itu, teh pun dibuatkan oleh anaknya. Sebut saja dia Nining. Kemudian Nining pun datang membawa secangkir teh hangat yang telah Ia buat dan meletakannya di meja. Dan setelah itu, sang bapak meminum Teh tersebut lalu berkata,

"ANJING...!!!"
"Kenapa pak? Gak manis yah tehnya??" Kata Nining menunduk. Sambil memegang tatakan minum.
"Bukan masalah manis ini!! Ini kenapa tehnya kayak gini??!!" Kata sang Bapak sambil memberi cangkir itu ke Nining.
"ASTAGHFIRULLAH!! Maaf, pak. Nining malah seduh kopi." Lalu Nining kembali ke dapur dan membuatkan teh yang benar-benar teh.

Jadi seperti itulah contohnya. Menurut saya, itu bukanlah kasar. Melainkan tidak sopan saja. Menurut saya, penggunaan kata 'ANJING' ini akan terlihat kasar jika di taruh di awal kalimat. Jadi rumusnya seperti ini,

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Semakin naik Semester, semakin males gue untuk masuk kuliah. Entah kenapa, efek kenaikan semester ini membuat gue jadi Mahasiswa yang pemalas. Mulai dari malas buat mandi (apa lagi kalau matakuliah pagi-pagi banget, bikin mager), males berangkat kuliah, males masuk kelas (ujung-ujungnya ke perpustakaan, nyolongin wi-fi gratisan), dan males ngerjain tugas.

Entah ada apa dengan diri gue ini, yang tadinya mahasiswa rajin, malah jadi males gini. Atau mungkin ini adalah efek terlalu lama sendiri? mungkin. Dari efek yang timbul dari kemalasan ini. IPK gue jadi drop abis. IPK Semester dua gue dapet 2,99 yang tadinya 3,27. Yah, gue turun drastis.

Gara-gara itu, TOEFL gue gagal (yah, gue gak dapet contekan). Nilai matakuliah English 2 gue C.
Dan absensi gue berantakan kayak kamar laki-laki. Pecah banget! Bener kata mahasiswa-mahasiswa terdahulu. Semakin tinggi semester, semakin males lah kita. Dan salah satu contohnya adalah gue sendiri. Atau mungkin masih banyak mahasiswa yang malasnya ngalahin gue.

Awalnya gue meniatkan di Semester 3 ini, gue akan rajin masuk, tapi ujung-ujungnya males juga. Banyak absen yang bolong-bolong di setiap matakuliah  (untungnya gue bisa ikutan UTS. Ajib). Dan gue pun mencoba mencari tahu, apa penyebabnya gue menjadi pemalas seperti saat ini. Kata temen deket gue, mungkin karena patah hati oleh wanita. Tapi enggak juga, sih.

Banyak temen kampus gue yang selalu menanyakan kenapa gue jadi males-malesan akhir ini. Dan gue cuman bisa menjaawab, Nggak tau!!

Gue bingung dengan hal ini. Apa penyebabnya, sampai saat ini, gue jadi males kuliah. Dari temen-temen semua. Adakah kalian seperti gue ini?? bisakah kalian berikan solusi kepada gue, yang sedang kalang kabut ini??
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bingunglah diriku. Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan dengan kedua tangan ini, pikiran ini, dan hati ini.

Semu rasanya. Terlelap gemerlapnya kehampaan. Sungguh, ku bingung dengan keadaan ini. Rasanya, tangan ini sudah tidak bernyawa lagi. Sulit untuk aku gerakan. Sama halnya dengan pikiran ini. Yang sekarang rusak oleh masa lalu yang tak jemu untuk berhenti. Bahkan hati ini.

Hati yang sudah terkikis oleh perih air mata. Ketika aku melihat engkau duduk bersebelahan dengan orang lain. Apakah yang harus aku lakukan dengan kebingungan ini. Kebingungan yang tiada henti-hentinya. Yang membuat pikiran ini semu. Haruskah aku re-boot? Atau, haruskah aku menghilangkan semua pikiran tengtangmu ini?

Sebenarnya...

Sulit, namun jika terlalu lama di simpan juga, tidak baik. Hanya membuat diriku kecewa. Seperti membeli barang se-harga 700 ribu, tapi duit yang ku punya hanya 698 ribu. 

Hmmm... Bingung rasanya.

Apa yang kali ini harus aku lakukan lagi? Menanyakan kabar? Ah, tidak perlu. Aku tahu kamu sehat dan juga sibuk dengan aktifitasmu. Rasanya, aku ingin bertemu denganmu. Tapi sayang, aku takut membuat bekas luka ini. Akan tertimpa oleh luka yang baru. Sebaiknya aku lebih baik diam. Diam seperti ini.

Karena apa, karena aku senang melihatmu bahagia. Jika kamu bahagia, aku pun sama. Sesederhana itu.



Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Diibaratkan anime dragon ball, kita bagaikan 7 bola naga. Kita akan terang ketika bersama, mulai meredup ketika seseorang mengabulkan permohonannya. setelah itu, 7 bola dragon ball tersebut pun berpencar ke sepenjuru arah. Entah terbang ke utara, barat, timur, maupun selatan.

Kitapun begitu. Ber-empat kita kumpul bersama. Terang, cerah, dan bahagia. Kita tidak peduli orang lain memandangi kita gila. Kita tidak peduli sang pemilik cafe marah, akibat kita yang terlalui ramai. Kita selalu bersama. Tapi, kita selalu jauh. Mungkin ruang hampa yang menyebabkan kita jauh. 

Empat.

Itulah kita. Berbagai macam karakter yang kita punyai, membuat kita menjadi beda. Kadang, akibat kebedaan kita. kita malah jadi bertengkar. padahal, masalah itu kecil. Entah, perbedaan ini adalah sebuah masalah dalam kita ber-empat atau malah jadi ciri khas kita.

Empat.

Kita mempunyai angan dan cita yang berbeda. walaupun hanya satu yang tak sama, tapi kita selalu bersama.

Empat.

Ketika masalah datang padaku, kalian selalu mau menjadi pendengar yang baik. Meski masalah ku adalah masalah yang fana. Begitupun kalian, ketika mendapati sebuah masalah, giliranku menjadi pendenger setia kalian. Mendengar berbagai macam masalah. Kadang diriku memberi solusi yang tak masuk akal. Maaf. Aku memang bodoh sekali. hehehehe...

Bentar. Tunggu sebentar. Air bendungan ini ingin keluar. Sepertinya kapasitas penyimpanan air ini akan jebol oleh rindu kita yang tak jarang bertemu.

Lucu. lucu saja. padahal kita selalu bertemu. hampir tiap minggu kita bertemu.

Duh... di mana tisu ini? aku tak tahan ingin menopang air ini. Dengan selembar tisu.

Jujur saja, aku bisa mendapati keramain hati ketika berjumpa dengan kalian. Walaupun aku selalu merasa kesepian di sepanjang detik jam yang berdetak. Aku tak tahu jika aku masuk pesantren. Atau masuk sekolah yang berbeda, Mungkin, kita tidak akan menjadi empat. Bahkan tiga. atau tidak sama sekali.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih telah mendatangi sebuah tamu abadi di hati ku di kala sepi. Sepi. Yang selalu sepi.

Empat.

Semoga saja bola dragon ball itu di pertemukan kembali oleh sedetik waktu. Agar kita, menjadi terang kembali.

Salam ku, yang merindukan suasa gaduh di cafe.






Riwandi, 6 September 2015
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

You can call me wandi.

My Page Views

Follow Me On

  • Behance
  • Facebook
  • Instagram

My Visitors

Blog Archive

  • ▼  2018 (8)
    • ▼  April 2018 (2)
      • Review : Menu Baru Mcdonald Indonesia ; Nasi Dagin...
      • Review : Nasi Uduk Mcdonald Indonesia, Apakah Rasa...
    • ►  Maret 2018 (1)
    • ►  Februari 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (4)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember 2017 (5)
    • ►  November 2017 (5)
    • ►  Oktober 2017 (4)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  Agustus 2017 (4)
    • ►  Juli 2017 (3)
    • ►  Juni 2017 (3)
    • ►  Mei 2017 (4)
    • ►  April 2017 (3)
    • ►  Maret 2017 (3)
    • ►  Februari 2017 (1)
    • ►  Januari 2017 (4)
  • ►  2016 (13)
    • ►  Desember 2016 (3)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  Oktober 2016 (2)
    • ►  Juni 2016 (3)
    • ►  April 2016 (1)
    • ►  Maret 2016 (1)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (30)
    • ►  November 2015 (8)
    • ►  Oktober 2015 (3)
    • ►  September 2015 (2)
    • ►  Agustus 2015 (2)
    • ►  Juli 2015 (8)
    • ►  Februari 2015 (1)
    • ►  Januari 2015 (6)
  • ►  2014 (61)
    • ►  Desember 2014 (3)
    • ►  November 2014 (6)
    • ►  September 2014 (17)
    • ►  Agustus 2014 (6)
    • ►  Juli 2014 (3)
    • ►  Juni 2014 (11)
    • ►  Mei 2014 (3)
    • ►  April 2014 (3)
    • ►  Februari 2014 (3)
    • ►  Januari 2014 (6)
  • ►  2013 (11)
    • ►  Desember 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (2)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Agustus 2013 (3)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Januari 2013 (1)

Komunitas Warung Blogger

Created with by ThemeXpose | Copyright © Riwandi 2020