Setiap kali Aku ingin tidur, Aku tidak bisa memejamkan mataku. Soalnya, yang kupejamkan adalah, mata kaki. Selain itu juga, ketika tengah malam sudah hadir pada rumahku. Tiba-tiba saja ada suara gaduh dari pintu luar rumah. Seakan-akan, malam ingin memanggilku, di ajak main olehnya.
Aku duduk di sebuah taman kota sambil mendengarkan lagu di iPod, ku. Terkadang, Aku mendengarkan lagu tersebut sambil memejamkan mata dan sedikit mengoyangkan kepalaku, mengikuti setiap nada dan irama yang keluar dari musik tersebut. Memang, sebuah musik bisa membangun hati yang ceria di kala sedang merasakan kesenduan.
Setelah beberapa menit mendengarkan musik dari Boyz II Men. Aku melepaskan earphone, ku. Tiba-tiba saja diriku terpaku pada seseorang. Dia menjulang tinggi bagaikan mercusuar yang memberikan sinar kepada kapal-kapal yang melintas menuju pelabuhan. Dan dia berhasil. Sungguh berhasil membuatku berlabuh.
Prolog
“Tunggu! Jangan tinggalkan aku!” ucapnya
kepadaku dari kejauhan.
“Ayo
cepat, nanti kita terlambat!” sembari berlari aku mengajak dia lari lebih
cepat.
“Iya!”
jawabnya.
Lalu
kami sampai di tempat dimana kami biasa menyaksikan matahari terbit, setiap
hari. Iya, kami tidak pernah melewatkan saat dimana langit berwarna jingga, dan
awan menjadi kuning keemasan, sangat indah. Sinarnya yang begitu terang,
menembus dinginnya pagi. Sebuah kehangatan sejati yang menghangatkan ladang
bunga di belakang rumah nenek.


